Rabu, 23 Mei 2012

Tentang Oma dan Jani




Oma Nina
            "Nduk, besok kuliah tho?" Yang ditanya cuma mengangguk sembari asyik mengutak-atik ponsel pintarnya. "Kamu kapan libur? Bisa ndak antar oma ambil pensiun?" tanya Oma Nina sembari duduk di samping Jani, sang cucu. "Sebentar oma," sahut Jani lalu bangkit untuk menerima telpon. "Halo? Taufan? Ih aku kangen tauuuu!" Ceklek. Jani masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
            Pandangan oma menerawang ke depan. Ia memandangi tirai yang bergerak-gerak dipermainkan angin malam. Semilir dingin masuk menggelitik permukaan kulitnya yang keriput. Mata tuanya tidak menjelaskan apa-apa. Ia menutup jendela dan berlalu ke dalam kamarnya. Sebuah percakapan usai, tanpa menuntaskan ingin dari salah satu pihak.
Jani
            "Nduk, besok kuliah tho?" Jani mengangguk. Matanya dan jarinya sibuk menekuri Blackberry. Ia tengah membuka Twitter. Malam ini, artis idolanya menjadi trending topic. Sepanjang pagi hingga sore kuliah dan mengerjakan tugas-tugas membuatnya tidak memiliki cukup waktu melepas penat. Wajar bila pulang ke rumah ia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bersantai dan sejenak membuang rasa lelah.
            Kadang ia lupa akan kehadiran anggota keluarganya. Kadang ia alpa, tidak hanya ia yang berada di ruangan itu. Ayah belum pulang. Jani mendengar, ayah akan ditugaskan ke luar pulau. Sekarang ayah menghabiskan banyak waktu di kantor, rapat hingga larut malam demi mempersiapkan keberangkatan dan misi yang diemban di tempat penugasan kelak. Ibu juga tak kalah padat jadwalnya. Ibu adalah pendukung sekaligus penyokong setia ayah. Ibu aktif dalam kegiatan organisasi di kantor ayah. Bila ibu banyak berperan dalam kegiatan organisasi, hal itu dapat membantu popularitas sekaligus nilai tambah bagi ayah di mata atasan. Sehingga ibu juga belum pulang meski bulan telah bulat.
            Jani cuma anak semata wayang. Anak yang kenyang perhatian, kenyang pengawasan. Anak yang mungkin lupa bagaimana caranya memperhatikan atau membagi telinganya untuk mendengar. Jani luput menoleh barang sejenak. Padahal ada oma di sisinya. Oma yang sendirian di rumah sepanjang hari, ditemani pembantu yang tak mampu mengganti sosok seorang cucu. Oma yang tak tahu siapa yang menemaninya ke bank untuk mengambil uang pensiun. Oma yang berusaha mengetahui kesibukan cucunya dan mencoba memahaminya. Bila dulu berbincang dengan oma adalah keistimewaan dan kesenangan, kini teknologi berhasil mengalihkan.
Oma Nina
            Waktu Jani kecil, oma sering menggendong dan menyuapi Jani. Jani kecil begitu manis. Jani adalah satu-satunya cucu perempuan oma, sehinga menjadikannya begitu istimewa. Lima cucu oma yang lain adalah laki-laki. Mereka juga jauh dari jangkauan oma. Thomas, Gani, Galang, Gerda, dan Alif masing-masing tinggal bersama orangtua mereka di luar pulau. Orangtua Thomas dan Alif merupakan humas di sebuah perusahaan minyak asing. Mereka rutin menelpon oma, minimal dua minggu sekali. Meski telpon tidak dapat mengganti kerinduan oma mengusap kepala kedua cucunya. Gani, Galang, dan Gerda tengah beranjak dewasa. Orangtua mereka bekerja sebagai peneliti. Mereka tinggal jauh di timur, di tempat tidak ada sambungan telpon atau internet. Namun mereka pulang untuk oma setiap enam atau dua belas bulan sekali. Meski oma lebih suka melihat mereka setiap hari.
            Maka bagi oma, cuma ada Jani. Jani yang terus menerus tersedia di depan mata, setiap hari, menjelang petang hingga pagi menjelang. Jani yang bisa ia beri kasih sayang cuma-cuma dan penuh-penuh. Jani yang bisa ia ajak tatap muka atau ia tanyai harinya di luar sana. Oma bisa melayani Jani karena tidak ada yang lain kecuali Jani. Oma terbiasa melayani penghuni rumah. Seperti kenangan oma melayani opa. Melayani makan dan menyiapkan pakaian sebagai bentuk rasa sayang. Bungah hati oma setiap bertanya apa yang ingin dimakan Jani atau pakaian yang mana yang mau dikenakan Jani esok. Bila Jani tidak mengerti, bagaimana cara oma menumpahkan kebutuhannya memberi dan melayani?
Jani
            Oma sudah tinggal bersama Jani sejak ia baru lahir. Beruntungnya Jani, bisa bertemu oma setiap waktu yang ia mau. Apalagi orangtuanya jarang berada di rumah. Omalah orang pertama yang menanyai harinya, menyiapkan perlunya, dan mendengar keluh kesahnya. Begitu, berulang, selama dua puluh satu tahun kehidupan Jani. Oma tidak pernah lupa bertanya, bahkan berulang kali. Sehingga Jani terbiasa. Ia tahu, oma tidak akan melewatkannya. Ia bukan Thomas, Gani, Galang, Gerda atau Alif yang harus menunggu per enam atau dua belas bulan sekali demi melihat oma dan merasakan rasa sayang oma secara langsung. Karena tiap Jani membuka pintu depan rumahnya, ada oma yang siap melebarkan tangannya dan menangkap Jani untuk merasa yakin ia telah pulang.
            Kadang Jani larut dalam gemerlap dunia yang ia cipta ketika berleha-leha. Jani lupa melakukan sesuatu seperti yang oma lakukan padanya. Jani lupa menunjukkan cintanya pada oma. Walaupun melalui sekedar menyediakan telinganya untuk mendengar dan menyediakan bibirnya untuk menjawab. Gelengan kepala dirasa cukup. Entah apa Jani tahu oma ingin mendengar suaranya.
Oma Nina
            Hari ini oma akan pergi sendiri. Mengambil uang pensiunnya lalu membelikan Jani sebuah tas batik cantik yang pernah ia lihat di majalah. Jani melingkari gambar tas tersebut. Oma yakin, Jani pasti suka bila memiliki tas itu.
            Cuaca sangat panas dan oma merasa sedikit pusing. Oma memandangi tas batik buat Jani melalui etalase. Oma tersenyum puas. Ada tulisan diskon besar-besar di atas kerta merah yang digantung di atas tas di etalase. Oma baru akan memasuki toko ketika beberapa orang menyenggolnya. Ternyata banyak orang ingin mendapatkan tas itu. Tenaga tua oma tidak sanggup menahan desakan perempuan-perempuan muda seusia Jani yang saling sikut demi sebuah tas. Pandangan oma berkunang. Kepalanya semakin pening.
Jani
            Jani memeluk sebuah bungkusan besar berisi tas batik. Tas itu hadiah dari pacarnya, Taufan. "Omaaaaaa!" teriak Jani senang. Ia tidak sabar segera memamerkan tas barunya sekaligus bercerita pada Oma tentang hadiah dari Taufan. Jani membuka pintu kamar oma. Kmar oma kosong. Entah di mana oma. Tapi Jani tidak ambil peduli. Mungkin oma sedang berjalan-jalan keliling komplek, pikirnya. Jani menyambar ponselnya, "Nitaaaa aku mau ceritaaa! Aku dapat tas dari Taufan. Besok aku tunjukin deh. Bagus lhoo!"

By : Erlinda S.W 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar