Oma Nina
"Nduk, besok kuliah tho?"
Yang ditanya cuma mengangguk sembari asyik mengutak-atik ponsel pintarnya.
"Kamu kapan libur? Bisa ndak antar oma ambil pensiun?" tanya Oma Nina
sembari duduk di samping Jani, sang cucu. "Sebentar oma," sahut Jani
lalu bangkit untuk menerima telpon. "Halo? Taufan? Ih aku kangen
tauuuu!" Ceklek. Jani masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Pandangan oma menerawang ke depan.
Ia memandangi tirai yang bergerak-gerak dipermainkan angin malam. Semilir
dingin masuk menggelitik permukaan kulitnya yang keriput. Mata tuanya tidak
menjelaskan apa-apa. Ia menutup jendela dan berlalu ke dalam kamarnya. Sebuah
percakapan usai, tanpa menuntaskan ingin dari salah satu pihak.
Jani
"Nduk, besok kuliah tho?"
Jani mengangguk. Matanya dan jarinya sibuk menekuri Blackberry. Ia tengah
membuka Twitter. Malam ini, artis idolanya menjadi trending topic. Sepanjang pagi hingga sore kuliah dan mengerjakan
tugas-tugas membuatnya tidak memiliki cukup waktu melepas penat. Wajar bila
pulang ke rumah ia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bersantai dan sejenak
membuang rasa lelah.
Kadang ia lupa akan kehadiran
anggota keluarganya. Kadang ia alpa, tidak hanya ia yang berada di ruangan itu.
Ayah belum pulang. Jani mendengar, ayah akan ditugaskan ke luar pulau. Sekarang
ayah menghabiskan banyak waktu di kantor, rapat hingga larut malam demi
mempersiapkan keberangkatan dan misi yang diemban di tempat penugasan kelak.
Ibu juga tak kalah padat jadwalnya. Ibu adalah pendukung sekaligus penyokong
setia ayah. Ibu aktif dalam kegiatan organisasi di kantor ayah. Bila ibu banyak
berperan dalam kegiatan organisasi, hal itu dapat membantu popularitas
sekaligus nilai tambah bagi ayah di mata atasan. Sehingga ibu juga belum pulang
meski bulan telah bulat.
Jani cuma anak semata wayang. Anak
yang kenyang perhatian, kenyang pengawasan. Anak yang mungkin lupa bagaimana
caranya memperhatikan atau membagi telinganya untuk mendengar. Jani luput
menoleh barang sejenak. Padahal ada oma di sisinya. Oma yang sendirian di rumah
sepanjang hari, ditemani pembantu yang tak mampu mengganti sosok seorang cucu.
Oma yang tak tahu siapa yang menemaninya ke bank untuk mengambil uang pensiun.
Oma yang berusaha mengetahui kesibukan cucunya dan mencoba memahaminya. Bila
dulu berbincang dengan oma adalah keistimewaan dan kesenangan, kini teknologi
berhasil mengalihkan.
Oma Nina
Waktu Jani
kecil, oma sering menggendong dan menyuapi Jani. Jani kecil begitu manis. Jani
adalah satu-satunya cucu perempuan oma, sehinga menjadikannya begitu istimewa.
Lima cucu oma yang lain adalah laki-laki. Mereka juga jauh dari jangkauan oma. Thomas,
Gani, Galang, Gerda, dan Alif masing-masing tinggal bersama orangtua mereka di
luar pulau. Orangtua Thomas dan Alif merupakan humas di sebuah perusahaan minyak
asing. Mereka rutin menelpon oma, minimal dua minggu sekali. Meski telpon tidak
dapat mengganti kerinduan oma mengusap kepala kedua cucunya. Gani, Galang, dan
Gerda tengah beranjak dewasa. Orangtua mereka bekerja sebagai peneliti. Mereka
tinggal jauh di timur, di tempat tidak ada sambungan telpon atau internet.
Namun mereka pulang untuk oma setiap enam atau dua belas bulan sekali. Meski
oma lebih suka melihat mereka setiap hari.
Maka bagi oma, cuma ada Jani. Jani
yang terus menerus tersedia di depan mata, setiap hari, menjelang petang hingga
pagi menjelang. Jani yang bisa ia beri kasih sayang cuma-cuma dan penuh-penuh.
Jani yang bisa ia ajak tatap muka atau ia tanyai harinya di luar sana. Oma bisa
melayani Jani karena tidak ada yang lain kecuali Jani. Oma terbiasa melayani
penghuni rumah. Seperti kenangan oma melayani opa. Melayani makan dan
menyiapkan pakaian sebagai bentuk rasa sayang. Bungah hati oma setiap bertanya
apa yang ingin dimakan Jani atau pakaian yang mana yang mau dikenakan Jani
esok. Bila Jani tidak mengerti, bagaimana cara oma menumpahkan kebutuhannya
memberi dan melayani?
Jani
Oma sudah tinggal bersama Jani sejak
ia baru lahir. Beruntungnya Jani, bisa bertemu oma setiap waktu yang ia mau.
Apalagi orangtuanya jarang berada di rumah. Omalah orang pertama yang menanyai
harinya, menyiapkan perlunya, dan mendengar keluh kesahnya. Begitu, berulang,
selama dua puluh satu tahun kehidupan Jani. Oma tidak pernah lupa bertanya,
bahkan berulang kali. Sehingga Jani terbiasa. Ia tahu, oma tidak akan melewatkannya.
Ia bukan Thomas, Gani, Galang, Gerda atau Alif yang harus menunggu per enam
atau dua belas bulan sekali demi melihat oma dan merasakan rasa sayang oma
secara langsung. Karena tiap Jani membuka pintu depan rumahnya, ada oma yang
siap melebarkan tangannya dan menangkap Jani untuk merasa yakin ia telah
pulang.
Kadang Jani larut dalam gemerlap
dunia yang ia cipta ketika berleha-leha. Jani lupa melakukan sesuatu seperti
yang oma lakukan padanya. Jani lupa menunjukkan cintanya pada oma. Walaupun
melalui sekedar menyediakan telinganya untuk mendengar dan menyediakan bibirnya
untuk menjawab. Gelengan kepala dirasa cukup. Entah apa Jani tahu oma ingin
mendengar suaranya.
Oma Nina
Hari ini oma akan pergi sendiri.
Mengambil uang pensiunnya lalu membelikan Jani sebuah tas batik cantik yang
pernah ia lihat di majalah. Jani melingkari gambar tas tersebut. Oma yakin,
Jani pasti suka bila memiliki tas itu.
Cuaca sangat panas dan oma merasa
sedikit pusing. Oma memandangi tas batik buat Jani melalui etalase. Oma
tersenyum puas. Ada tulisan diskon besar-besar di atas kerta merah yang
digantung di atas tas di etalase. Oma baru akan memasuki toko ketika beberapa orang
menyenggolnya. Ternyata banyak orang ingin mendapatkan tas itu. Tenaga tua oma
tidak sanggup menahan desakan perempuan-perempuan muda seusia Jani yang saling
sikut demi sebuah tas. Pandangan oma berkunang. Kepalanya semakin pening.
Jani
Jani memeluk sebuah bungkusan besar berisi tas batik. Tas
itu hadiah dari pacarnya, Taufan. "Omaaaaaa!" teriak Jani senang. Ia
tidak sabar segera memamerkan tas barunya sekaligus bercerita pada Oma tentang
hadiah dari Taufan. Jani membuka pintu kamar oma. Kmar oma kosong. Entah di
mana oma. Tapi Jani tidak ambil peduli. Mungkin oma sedang berjalan-jalan
keliling komplek, pikirnya. Jani menyambar ponselnya, "Nitaaaa aku mau
ceritaaa! Aku dapat tas dari Taufan. Besok aku tunjukin deh. Bagus lhoo!"By : Erlinda S.W
Tidak ada komentar:
Posting Komentar