Kamis, 24 Mei 2012

Paris with Love...

Cinta selalu punya jalan untuk saling menemukan...

Aku menikmati aroma daun berguguran musim gugur di salah satu kota kecil di Perancis. Kota Cassis yang beada di daerah Bouches-du-Rhône, merupakan kota kecil dengan pemandangan lautan berwarna biru langit. Warna biru yang bermain begitu mempesona, dengan perahu nelayan hingga kapal besar berlayar di atasnya. Kota ini terkenal dengan keindahan alamnya terutama teluk karang yang konon disebut terindah se-Eropa oleh turis asing. Suasana terbaik yang disuguhkan kota kecil ini berada pada bulan Mei hingga Juni, dan aku baru saja melewatkan periode terbaik itu beberapa bulan lalu.
Aku mencintai Perancis, bahkan selalu bermimpi bisa pergi ke Perancis, menikmati hawa empat musim yang tak pernah aku dapatkan di negeri asalku. Aku selalu ingin mencicipi rasanya duduk memandangi menara Eiffel yang menjulang menebarkan bubuk romantis yang membuat pasangan-pasangan di sekitarnya merasa terhipnotis. Aku selalu iri melihat artis ibukota di televisi memamerkan keindahan bangunan tua di Perancis, wisata air dengan iringan lagu sendu nan manis membelai telinga, dan masih banyak lagi jika aku mau googling dan semakin merasa iri nantinya.
Namun semua terasa berbeda...
Bonjour Elena... Ca Va?” sapa seorang ibu rumah tangga padaku. Dia nyonya Rulita. Ibu dari Chloe yang selama ini selalu membantuku di rumah kecil yang kusewa untuk keperluanku. “Bien, madame... merci.” Aku menjawab agak terbata. Baru satu bulan aku meninggalkan negeri Bhineka Tunggal Ika tempat kelahiranku dan menetap sementara di Cassis. Aku sudah mengelilingi Perancis seperti keinginanku, aku sudah bertemu menara Eiffel, Benteng tua, dan sudah datang ke sungai tempat perahu berdayung mangkal, namun aku urungkan niatku untuk naik saat itu, karena aku sendirian.
Aku seorang mahasiswa jurusan Bahasa Perancis di salah satu universitas di Jakarta. Aku menjadi satu mahasiswa beruntung yang bisa pergi ke Perancis dengan biaya hidup dari kampus. Aku sendiri bingung mengapa aku yang terpilih, orang-orang bilang aku yang terbaik dari beberapa puluh mahasiswa lainnya, walaupun aku tidak merasa begitu, bahkan aku belum mampu menyanyikan lagu aluet dengan logat yang benar. Aku dikirim untuk mempelajari budaya dan bahasa kota kecil bernama Cassis ini, walaupun sampai hari ini aku belum mendapatkan apa-apa.
Aku menarik satu koper di tanganku keluar dari rumah kayu yang nampak asri dipandang mata. “Au revoir, Elena... bon voyage.” Ujar Nyonya Rulita dan Chloe anaknya mengiringi kepergianku. Aku memutuskan untuk pulang sementara ke negeri asalku untuk mengurusi beberapa berkas di kampus, sekaligus menemui dia, anak laki-laki yang dulu sempat membuatku tersendat untuk pergi ke Perancis...

Aku sampai di bandara Internasional negaraku. Orang tuaku sudah berdiri penuh senyum bangga menantikan putri semata wayangnya yang baru saja menikmati sensasi terbang di udara. Dan, tentu saja beberapa sahabat dekatku juga datang, kecuali dia. Aku memeluk mereka seraya melepaskan rasa rindu yang menumpuk.
“Gimana Paris? Seindah yang lo idam-idamkau?” Tanya Betty dengan gigi kawat warna-warninya.
“Lo bawa oleh-oleh yang gua pesen nggak? Tas gucci? LV? Atau yang leinnya?” Helen menyerobot pertanyaan Betty. Aku menepuk jidat pura-pura lupa. Helen langsung cemberut. Rena yang selalu jadi sosok keibuan merangkul Helen dan menghiburnya. Aku mengedipkan mata penuh rasa terima kasih pada Rena.
Mataku mencari sosok laki-laki muda dengan gaya khasnya, sepatu kets yang sudah mulai usang, rambut pendek namun terlihat berantakan, kemeja fanel, dan earphone yang selalu menggantung di pundaknya. “Mana Dio?” tanyaku dalam hati.
Betty membaca air mukaku. “Dio udah gue kasih tahu kemaren via sms.” Aku menatap Betty. “Dan dia nggak bales.” Aku mencoba meneruskan kemungkinan yang akan dikatakan Betty. Dan, Betty mengangguk.

Aku Elena, gadis yang selama ini selalu mementingkan diri sendiri daripada orang lain, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, aku selalu mengatakan apa yang ingin kukatakan, tak peduli ada orang yang keberatan dengan kata-kataku, aku selalu minta maaf bila ada orang lain yang mengadukan rasa keberatannya atas kata-kataku, dan setelah itu melupakannya lalu kembali mengulangi kesalahanku.
Hari itu Dio duduk disampingku secara tiba-tiba, “Ada seorang gadis yang menangis karena kata-kata lo...” ucapnya padaku. Aku menatapnya. “Lo ngomong sama gue?” dia mengangguk. “Siapa?” kataku cuek. Aku kembali menatap langit. “Gimana lo bisa hargain orang lain kalo sikap lo aja kayak gini? Siapa cowok yang bakal tulus suka sama lo, kalau lo kayak gini?” Ucapnya sinis. Mataku mendelik. “Gue rasa nggak penting buat lo siapa yang nangis karena ulah lo.” Lanjutnya. “Siapa sih lo? Apa mau lo?” aku mulai terganggu. Dia berdiri membelakangiku. “Dio, fakultas sastra Indonesia.” Katanya sembari pergi meninggalkanku. Aku menarik sudut bibirku membentuk senyuman sinis. “Laki-laki banyak gaya. Yang pasti bukan lo cowoknya.” Kataku setengah teriak.
Keesokan harinya, sesampainya aku di kampus ada seorang anak perempuan dekil membawa setangkai bunga mawar bertuliskan kata-kata romantis untukku. “Buat kakak supaya selalu tersenyum.” Ujar anak itu terbata-bata seperti sedang menghafal. Aku mengambil bunga itu dengan heran. “Dari siapa?” Tanyaku. Namun, gadis kecil itu hanya tersenyum dan pergi. Aku membuka kertas kecil yang tertempel di tangkai bunga. “Satu senyum darimu, mampu indahkan dunia, dinda...” keningku mengkerut. “Nama gue bukan Dinda, salah orang kali yah itu anak?” gumamku pelan. Tanpa pikir panjang aku buang bunga mawar itu ke tong sampah terdekat.
Esoknya lagi, bocah laki-laki yang membawa ukulele mendekat padaku, dia menyanyikan sebait lagu cinta dihadapanku, lalu memberikan setangkai bunga yang sama seperti kemarin. Sepucuk surat juga tergantung disana. Bocah laki-laki itu pergi tanpa meminta bayaran atas suaranya seperti biasanya. Aku masukkan lagi uang koin ke dalam saku dan membaca potongan kecil surat berwarna merah muda ditanganku. “Apalagi jika kamu tertawa, suaranya mampu getarkan malam...” aku tersenyum sekilas. Eh, ada notes-nya, “NB: Tolong, jangan buang aku lagi...” aku terkejut. Mataku menerawang seluruh areal gerbang kampus. Ada begitu banyak mahasiswa, aku tidak tahu siapa yang mengirim ini. Tapi, untuk menghargai perasaannya, aku memasukkan bunga ini ke dalam tas.
Hari demi hari bunga yang dikirim pengagum rahasia itu semakin banyak. Kamarku sudah dipenuhi mawar merah pemberiannya sampai-sampai ibuku selalu mencium bau mawar setiap lewat kamarku. Hari ini, aku tidak mau menerima mawar itu.
Seorang nenek tua mendekatiku di gerbang kampus. Setelah dua minggu aku disodori bocah-bocah kecil, sekarang dia menyuruh seorang nenek tua. “Neng... nenek belum makan...” ujar nenek itu memelas. Apa ini? nenek ini bukan kiriman orang itu? Aku menatap nenek itu, dia tidak membawa benda yang sekiranya akan dia berikan padaku. Akhirnya aku mengangkat telapak tanganku menolak dengan halus. Aku masuk meninggalkan nenek itu karena sudah waktunya masuk kuliah. Setelah hari itu, tidak ada lagi kata-kata romantis yang pelan-pelan aku rindukan. Tidak ada yang seromantis itu padaku sebelumnya.

“Gimana El? Udah ketemu secret admirer lo yang romantis itu?” tanya Betty padaku. Aku menggeleng lemah. Betty menepuk pundakku.
Berminggu-minggu tak ada tanda-tanda darinya. Tak ada bocah, tak ada surat. Sampai pada hari terpampangnya pengumuman di mading fakultas bahasa.

Ellena Santika BP12190045
Atas keputusan dari hasil perundingan dosen fakultas bahasa, akan diberangkatkan ke Perancis untuk keperluan study bahasa perancis pada hari Sabtu tanggal 6 Mei 2005.

Surat pengumuman itu mengejutkan semua mahasiswa di kampusku. Mereka menyalamiku dengan suka cita. Aku memang menyukai Paris, harusnya aku senang mendapat berita itu, tapi kenyataannya berita itu sama sekali tidak menggubrisku.
Sudut hatiku lebih memikirkan orang yang memberiku tangkai demi tangkai bunga mawar yang kini hilang. Aku duduk di bangku batu favoritku. “Gimana bisa gue mikirin orang yang belum gue kenal sekalipun? Kenapa gue ngarepin kata-kata manis di surat itu lagi? Ada apa sama gue? Gue jatuh cinta? Suka sama orang yang gue nggak tahu mukanya seganteng Daniel Radcliffe atau mungkin seburuk Voldemort?” Pikirku sembari memejamkan mata dan bersender. Seseorang duduk disampingku. Aku tak peduli.
“Selamat ya, lo beruntung bisa jalan-jalan ke Perancis dan menikmati romantisnya kota-kota disana.” Katanya yang sudah pasti tertuju padaku. Aku membuka mata. Laki-laki bernama Dio yang dua minggu lalu membuatku kesal duduk disana. “Lo lagi, mau apa lagi?” Tanyaku sinis. “Masih aja sinis, gue kan cuma ngucapin selamat aja,” katanya kalem. “Oh... iya, makasih.” Kataku cuek. Dio tersenyum, senyuman itu terlihat teduh. Belum pernah aku melihatnya dari dua mantanku terdahulu.
“Lo tahu, Perancis akan lebih indah kalau lo nikmatin dengan orang yang lo sayang.” Ujarnya sembari menatap langit. “Ngomong apa sih lo?” aku masih sinis.
Dio tertawa. “Nih, ada surat.” Katanya sembari menyodorkan sepucuk surat berwarna merah muda padaku, lalu pergi dengan memasang earphone putihnya di telinga.

Dinda...
Aku harap, aku bisa menemuimu dihari sebelum kepergianmu ke negeri orang...
05-05-05
Aku harap kamu bisa datang ke kampus ini pukul 18.00 dari gerbang gedung olahraga...
Bersoleklah yang indah dan aku akan menunggu...

Secarik kertas itu berisi tulisan dalam tata bahasa yang sering kusebut kuno, namun tak kusangka rasanya seindah ini jika aku menerimanya sendiri. Kata-kata ini untukku.
Sejak itu, aku tak sabar menanti tanggal cantik yang tertulis di kertas yang selalu aku bawa di dompetku. Aku juga semakin antusias untuk pergi ke Perancis, entah kenapa kata-kata Dio siang tadi membuatku ingin merasakan keromantisan negeri Perancis segera. Aku jadi semakin sering googling mencari tempat-tempat romantis di Perancis, menara Eiffel, bangunan tua, aliran sungai dengan iringan lagu haru, taman bunga yang indah dan banyak lagi yang membuatku tertarik. Aku memang mencintai Paris sejak duduk di bangku SMA, karena alasan itu juga aku mengambil jurusan bahasa perancis di universitas.
Dua minggu berlalu, paspor sudah selesai, tiket sudah ditangan dan persiapan sudah hampir 90%, aku hanya tinggal membeli beberapa krim kulit agar kulitku dapat beradaptasi dengan iklim disana.

05-05-05 pukul 17.50
Aku sampai di gerbang gedung olahraga. Disana ada secarik kertas yang menempel di pagar. “Dorong aku.” Kata kertas itu, aku mendorong gerbang yang tidak dikunci itu. aku diam beberapa saat, jam tanganku menunjukkan pukul 18.05 dan aku mulai melangkah. Aku mengenakan short-dress warna merah muda dengan high heels warna senada. Wajahku dihias alami.
Aku mendekat ke gerbang besar seperti pintu masuk menuju alam lain yang terbuat dari besi, aku mendorong gerbang yang menuju ke gedung olahraga itu. gerbang terbuka dan membuatku takjub. Ada banyak lilin kecil dan taburan kelopak mawar menuntun langkahku, benda-benda yang memiliki wangi khas ini menuntunku ke lantai tiga. Cahaya lilin dan taburan kelopak mawar itu berhenti di sebuah kotak segi empat. Diatas kotak itu ada pesan lagi, “Bawa aku lurus menuju balkon tangga.” Katanya. Aku melangkah pelan menaiki anak tangga. Sesampainya diatas aku melihat seorang laki-laki dengan senyuman teduh dihadapanku. “Dio?” Tanyaku. “Aku disini, dinda...” Balasnya masih tersenyum. “Simpan itu disitu.” Ucap Dio sembari menunjuk meja kecil samping kiriku. Aku menyimpannya sesuai perintah. Mataku beradu pandang dengannya. Dio mendekatiku dan meraih kedua tanganku.
“Sebelumnya, aku minta maaf kalau aku mengejutkanmu, tapi, sejujurnya, aku menyukaimu sejak pertama kali mendengar suaramu, dan melihat tawamu. Awalnya, aku pikir aku ingin terlebih dulu mengenalmu dan membiarkanmu mengenalku, tapi setelah aku melihat pengumuman di mading dua minggu lalu, aku rasa terlalu lama jika aku harus menunggu kita saling mengenal lebih dekat seperti pasangan lain. Aku berpikir keras bagaimana caraku menyatakannya, dan aku tiba pada momen saat aku mendengar sahabatmu, Betty mengatakan dengan keras Hey, siapapun cowok yang suka sama Elena, kasih dia momen yang romantis dong!. Sisi romantisku tak tahan untuk keluar setelah mendengar itu, seperti yang kamu tahu... ini puncaknya.” Dio menjelaskan dengan panjang lebar. Aku nyaris menganga dengan hati yang terenyuh. Dio mendorong tubuhku kearah balkon tangga. “Tutup matamu...” Pintanya. Aku menutup mataku segera, mengharapkan kejutan indah berikutnya. Dia menempelkan tubuhku ke balkon tangga.
“Elena... aku menyukaimu seperti menyukai aroma hujan... aku menyayangimu seperti kamu menyayangi orang terkasihmu... dan Elena, aku membutuhkanmu seperti kupu-kupu membutuhkan madu...” Dio menghentikan kata-katanya. Tarikan nafas gugup terdengar di telingaku. “Elena... maukah kamu jadi kekasih hatiku yang tulus mencintaimu, ini?” Dio mengatakannya bak pangeran dari negeri dongeng. “Buka matamu dan jawablah pertanyaanku, Elena...”
Aku membuka mataku dan segera mengangkat kedua tanganku untuk menutup mulutku yang nyaris menganga. Di bawah balkon ini ada kolam renang yang diatasnya terdapat lilin-lilin temaram bertuliskan I Love You dengan lambang hati dan taburan kelopak mawar dimana-mana, seling beberapa detik dari ketakjubanku menatap kolam renang, cahaya-cahaya kecil terbang melewatiku dengan gemulai, itu cahaya dari beberapa kunang-kunang yang berasal dari kotak yang aku bawa tadi. Aku membalikkan tubuhku menghadap Dio. Dengan tatapan dan senyuman teduhnya, aku memeluknya penuh cinta dan rasa terima kasih. “Kamu mau jadi pacarku?” bisiknya di telingaku. Aku memeluknya semakin erat. Dio membalas pelukanku dengan lembut.
“Aku serasa sedang dalam drama cinta Dealova.” Kataku lirih. “Makasih...”
Dio membelai rambutku.

Tiba di hari kepergianku ke Perancis, Dio tidak muncul untuk mengantar. Semalam dia memintaku menunda kepergianku ke Perancis sebentar saja agar kami bisa bersama-sama menikmatinya. Tapi, hasratku membayangkan keromantisan kota Paris mengalahkan segalanya. Aku meninggalkan Dio dan harapannya di bandara, aku bisa saja meminta dosen mengundur kepergianku karena alasan tertentu, toh, banyak kakak senior yang melakukan itu. Tapi, aku terlalu ingin ke kota cinta itu secepat aku bisa dan melupakan komponen terpenting untuk dibawa kesana yaitu, cinta.

“Di kota cinta tanpa cinta seperti orang yang menyewa lapangan bola tanpa timnya. Aku tidak bisa melakukan apapun, aku tidak bisa merasakan keromantisan yang ada di benakku selama ini. Aku meninggalkan hal yang paling penting untuk pergi kesana disini. Aku benar-benar egois...” Ucapku lirih pada Dio setelah kepulanganku dari Perancis. Akhirnya Dio mau menemuiku setelah aku merengek penuh sesal.
Kami bertemu di bangku batu favorit kami berdua.
Dio tersenyum khas. “Elena... cinta akan menemukan jalannya untuk saling menemukan. Sejauh apapun kamu pergi, aku yakin kamu kembali. Kita akan pergi ke Paris dan menikmati secangkir cokelat panas di bawah menara Eiffel, ditemani sinar bulan, kelap-kelip bintang dan duduk berpelukan di perahu yang diiringi lagu merdu yang mendayu. Aku janji, bersabarlah...” Ucap Dio lalu mengecup keningku, membuat air mataku mengalir.


By : Amalia S

“Cinta hanyalah sepotong perasaan yang takkan habis dimakan Waktu”

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa
dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi
bukan semata
miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama
herannya.  
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati
hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai
kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas.


Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya
menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan
detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi
kejadian
di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.
Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan
Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat
karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab
kakak-kakaknya
yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak
tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir
dari
Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira
Nania
bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania
yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong.
Semua menatap Nania!
“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
memang melamarnya.
“Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira
Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah
pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ?” Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
“maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi
jawabannya tidak harus iya, toh?”
Nania terkesima.

“Kenapa?”
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang
busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara
baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan
sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.
Parah.

“Tapi kenapa?”
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania menco! ba membuka matanya.
“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di
mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
melihat
pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu
tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar
biasa’.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun
Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima
Rafli.
Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering
berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari
Rafli.
Jeleknya,Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan
Rafli agar
tampak di mata mereka.


Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar
hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata,
atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu
sangat bahagia.

“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.
“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”
“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan
sukses!”
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh
meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli.
Lagi-lagi percuma.
“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu
bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. “

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan
satu
perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah
mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih
dari cukup untuk hidup senang.

“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak
terlalu memforsir diri.
“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa
menangkap hanya maksud baik.
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan
Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak
pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia.
Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik
tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi
Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia
hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga.
Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau
membuat Nania menangis.

***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua
minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan! “

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam
rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal,
hanya
dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit.
Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar
ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan
melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima
menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

“Baru pembukaan satu.”
“Belum ada perubahan, Bu.”
“Sudah bertambah sedikit! ” kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.
“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak
bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.
Perkiraan mereka meleset.

“Masih pembukaan dua, Pak!”
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit
yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi
perempuan itu makin payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
“Bang?”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.

“Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah
sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam
perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun.
Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia
tak
sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
“Pendarahan hebat.”
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di
pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan
meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.


Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian
bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang
baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga
daya
hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. 
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania
di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si
kecil.
Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga
Nania dengan Rafli.


Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan
rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah.
Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan
memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu
diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang
terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang
kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan
sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
“Nania, bangun, Cinta?”
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan,
pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan
berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah
sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.
Kadang
lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan
membacanya
dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak
bosan-bosannya berbisik, “Nania, bangun, Cinta?”

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.
Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat
lagi
cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi
sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan
ibunya.
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama
tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya
yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania
dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang
sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh
cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.
Ia ingin
Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak
perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah
selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah
perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di
restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu
melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang
di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya
di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak
puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Nania beruntung!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana
suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan
Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian.
Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali
selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka.
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
yang
lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut
takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki
biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

By : Carly E.N

Rabu, 23 Mei 2012

Tentang Oma dan Jani




Oma Nina
            "Nduk, besok kuliah tho?" Yang ditanya cuma mengangguk sembari asyik mengutak-atik ponsel pintarnya. "Kamu kapan libur? Bisa ndak antar oma ambil pensiun?" tanya Oma Nina sembari duduk di samping Jani, sang cucu. "Sebentar oma," sahut Jani lalu bangkit untuk menerima telpon. "Halo? Taufan? Ih aku kangen tauuuu!" Ceklek. Jani masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
            Pandangan oma menerawang ke depan. Ia memandangi tirai yang bergerak-gerak dipermainkan angin malam. Semilir dingin masuk menggelitik permukaan kulitnya yang keriput. Mata tuanya tidak menjelaskan apa-apa. Ia menutup jendela dan berlalu ke dalam kamarnya. Sebuah percakapan usai, tanpa menuntaskan ingin dari salah satu pihak.
Jani
            "Nduk, besok kuliah tho?" Jani mengangguk. Matanya dan jarinya sibuk menekuri Blackberry. Ia tengah membuka Twitter. Malam ini, artis idolanya menjadi trending topic. Sepanjang pagi hingga sore kuliah dan mengerjakan tugas-tugas membuatnya tidak memiliki cukup waktu melepas penat. Wajar bila pulang ke rumah ia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bersantai dan sejenak membuang rasa lelah.
            Kadang ia lupa akan kehadiran anggota keluarganya. Kadang ia alpa, tidak hanya ia yang berada di ruangan itu. Ayah belum pulang. Jani mendengar, ayah akan ditugaskan ke luar pulau. Sekarang ayah menghabiskan banyak waktu di kantor, rapat hingga larut malam demi mempersiapkan keberangkatan dan misi yang diemban di tempat penugasan kelak. Ibu juga tak kalah padat jadwalnya. Ibu adalah pendukung sekaligus penyokong setia ayah. Ibu aktif dalam kegiatan organisasi di kantor ayah. Bila ibu banyak berperan dalam kegiatan organisasi, hal itu dapat membantu popularitas sekaligus nilai tambah bagi ayah di mata atasan. Sehingga ibu juga belum pulang meski bulan telah bulat.
            Jani cuma anak semata wayang. Anak yang kenyang perhatian, kenyang pengawasan. Anak yang mungkin lupa bagaimana caranya memperhatikan atau membagi telinganya untuk mendengar. Jani luput menoleh barang sejenak. Padahal ada oma di sisinya. Oma yang sendirian di rumah sepanjang hari, ditemani pembantu yang tak mampu mengganti sosok seorang cucu. Oma yang tak tahu siapa yang menemaninya ke bank untuk mengambil uang pensiun. Oma yang berusaha mengetahui kesibukan cucunya dan mencoba memahaminya. Bila dulu berbincang dengan oma adalah keistimewaan dan kesenangan, kini teknologi berhasil mengalihkan.
Oma Nina
            Waktu Jani kecil, oma sering menggendong dan menyuapi Jani. Jani kecil begitu manis. Jani adalah satu-satunya cucu perempuan oma, sehinga menjadikannya begitu istimewa. Lima cucu oma yang lain adalah laki-laki. Mereka juga jauh dari jangkauan oma. Thomas, Gani, Galang, Gerda, dan Alif masing-masing tinggal bersama orangtua mereka di luar pulau. Orangtua Thomas dan Alif merupakan humas di sebuah perusahaan minyak asing. Mereka rutin menelpon oma, minimal dua minggu sekali. Meski telpon tidak dapat mengganti kerinduan oma mengusap kepala kedua cucunya. Gani, Galang, dan Gerda tengah beranjak dewasa. Orangtua mereka bekerja sebagai peneliti. Mereka tinggal jauh di timur, di tempat tidak ada sambungan telpon atau internet. Namun mereka pulang untuk oma setiap enam atau dua belas bulan sekali. Meski oma lebih suka melihat mereka setiap hari.
            Maka bagi oma, cuma ada Jani. Jani yang terus menerus tersedia di depan mata, setiap hari, menjelang petang hingga pagi menjelang. Jani yang bisa ia beri kasih sayang cuma-cuma dan penuh-penuh. Jani yang bisa ia ajak tatap muka atau ia tanyai harinya di luar sana. Oma bisa melayani Jani karena tidak ada yang lain kecuali Jani. Oma terbiasa melayani penghuni rumah. Seperti kenangan oma melayani opa. Melayani makan dan menyiapkan pakaian sebagai bentuk rasa sayang. Bungah hati oma setiap bertanya apa yang ingin dimakan Jani atau pakaian yang mana yang mau dikenakan Jani esok. Bila Jani tidak mengerti, bagaimana cara oma menumpahkan kebutuhannya memberi dan melayani?
Jani
            Oma sudah tinggal bersama Jani sejak ia baru lahir. Beruntungnya Jani, bisa bertemu oma setiap waktu yang ia mau. Apalagi orangtuanya jarang berada di rumah. Omalah orang pertama yang menanyai harinya, menyiapkan perlunya, dan mendengar keluh kesahnya. Begitu, berulang, selama dua puluh satu tahun kehidupan Jani. Oma tidak pernah lupa bertanya, bahkan berulang kali. Sehingga Jani terbiasa. Ia tahu, oma tidak akan melewatkannya. Ia bukan Thomas, Gani, Galang, Gerda atau Alif yang harus menunggu per enam atau dua belas bulan sekali demi melihat oma dan merasakan rasa sayang oma secara langsung. Karena tiap Jani membuka pintu depan rumahnya, ada oma yang siap melebarkan tangannya dan menangkap Jani untuk merasa yakin ia telah pulang.
            Kadang Jani larut dalam gemerlap dunia yang ia cipta ketika berleha-leha. Jani lupa melakukan sesuatu seperti yang oma lakukan padanya. Jani lupa menunjukkan cintanya pada oma. Walaupun melalui sekedar menyediakan telinganya untuk mendengar dan menyediakan bibirnya untuk menjawab. Gelengan kepala dirasa cukup. Entah apa Jani tahu oma ingin mendengar suaranya.
Oma Nina
            Hari ini oma akan pergi sendiri. Mengambil uang pensiunnya lalu membelikan Jani sebuah tas batik cantik yang pernah ia lihat di majalah. Jani melingkari gambar tas tersebut. Oma yakin, Jani pasti suka bila memiliki tas itu.
            Cuaca sangat panas dan oma merasa sedikit pusing. Oma memandangi tas batik buat Jani melalui etalase. Oma tersenyum puas. Ada tulisan diskon besar-besar di atas kerta merah yang digantung di atas tas di etalase. Oma baru akan memasuki toko ketika beberapa orang menyenggolnya. Ternyata banyak orang ingin mendapatkan tas itu. Tenaga tua oma tidak sanggup menahan desakan perempuan-perempuan muda seusia Jani yang saling sikut demi sebuah tas. Pandangan oma berkunang. Kepalanya semakin pening.
Jani
            Jani memeluk sebuah bungkusan besar berisi tas batik. Tas itu hadiah dari pacarnya, Taufan. "Omaaaaaa!" teriak Jani senang. Ia tidak sabar segera memamerkan tas barunya sekaligus bercerita pada Oma tentang hadiah dari Taufan. Jani membuka pintu kamar oma. Kmar oma kosong. Entah di mana oma. Tapi Jani tidak ambil peduli. Mungkin oma sedang berjalan-jalan keliling komplek, pikirnya. Jani menyambar ponselnya, "Nitaaaa aku mau ceritaaa! Aku dapat tas dari Taufan. Besok aku tunjukin deh. Bagus lhoo!"

By : Erlinda S.W 

Selasa, 22 Mei 2012

Welcome To Liputan Cerita.com :D

selamat datang untuk kalian para pecinta cerita-cerita novel :D selamat menikmati cerita-cerita yang ada disini dan selamat bergabung untuk menyumbangkan ide-ide kreatif kalian disini!
untuk kalian yang ingin menyumbangkan cerita kalian kesini, ayooooo bergabung dengan hubungi admin kami :D
throw your creative ideas in right place!!!!

Welcome to Liputan Cerita.com :)

Selamat datang para pecinta cerita-cerita di seluruh sudut dunia :D
selamat bergabung dengan liputan cerita.com! wadah kalian dalam mencurahkan seluruh ide kreatif kalian :)
bagi kalian yang ingin berbagi cerita yang kalian buat, tak perlu sungkan tak perlu malu! disini kita sharing cerita demi cerita, mau novel, fiksi, atau non fiksi, silakan kirim ke email:

liputan.cerita@yahoo.com

ditunggu ide-ide kreatif kaliaaaan ya! throw your creative ideas in right place ;)